Pernahkah Anda membayangkan bahwa di Indonesia yang dikenal sebagai negara khatulistiwa yang sangat hangat, terdapat momen di mana alam berubah menjadi sangat dingin hingga terjadi Fenomena Es di puncak-puncak tertingginya? Kejadian ini seringkali dialami oleh para pendaki yang melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Semeru, Gede-Pangrango, atau Dataran Tinggi Dieng saat memasuki puncak musim kemarau yang sangat kering dan jernih. Di saat langit tidak tertutup awan, panas bumi akan terlepas ke atmosfer dengan sangat cepat pada malam hari, menyebabkan suhu udara di permukaan tanah merosot drastis hingga di bawah titik beku.
Proses terjadinya Fenomena Es di wilayah tropis ini sangat bergantung pada kondisi kelembapan udara yang rendah dan tiupan angin yang tidak terlalu kencang agar uap air bisa membeku dengan sempurna. Kristal-kristal es yang menempel pada tanaman ini sebenarnya adalah hasil dari sublimasi, di mana uap air langsung berubah menjadi padat tanpa melewati fase cair terlebih dahulu karena suhu yang sangat ekstrem. Bagi para pendaki, momen ini sering disebut sebagai “embun upas” atau embun beracun bagi para petani karena suhunya yang bisa mencapai minus lima derajat Celcius dapat merusak sel-sel tanaman hingga layu terbakar hawa dingin.
Saat terjadi Fenomena Es, daya tahan tanaman asli pegunungan seperti edelweiss dan cantigi akan diuji oleh hawa dingin yang bisa membuat air di dalam jaringan sel mereka membeku dan pecah. Namun, tanaman-tanaman pionir ini biasanya telah berevolusi dengan memiliki lapisan lilin atau bulu-bulu halus pada daunnya untuk melindungi diri dari paparan suhu rendah yang mematikan tersebut secara alami. Sebaliknya, tanaman perkebunan milik warga di sekitar lereng gunung seringkali tidak mampu bertahan dan mengalami gagal panen massal jika embun beku ini bertahan selama beberapa hari berturut-turut dalam intensitas yang cukup tinggi. Inilah sebabnya mengapa masyarakat lokal selalu waspada saat langit malam terlihat sangat cerah tanpa bintang yang tertutup awan, karena itu adalah pertanda bahwa es mungkin akan turun menyapa lahan mereka di esok pagi.