Menjalani peran sebagai pengelola rumah tangga bukanlah tugas yang sepele, apalagi sekarang tantangannya semakin berat karena Kesehatan Mental sering kali terusik oleh apa yang kita lihat di layar ponsel. Di era media sosial, standar kebahagiaan seolah dipatok oleh foto-foto estetika dari rumah yang selalu rapi atau anak-anak yang selalu terlihat penurut. Tanpa sadar, banyak ibu yang mulai membandingkan kehidupan nyata mereka yang penuh peluh dan cucian menumpuk dengan cuplikan kehidupan orang lain yang sudah melewati proses editing .
Upaya menjaga Kesehatan Mental bagi para ibu harus dimulai dengan kesadaran bahwa apa yang tampil di media sosial hanyalah bagian kecil dan terbaik dari kehidupan seseorang, bukanlah realitas utuhnya. Penting sekali untuk melakukan kuras terhadap siapa yang kita ikuti di dunia maya agar tidak terus menerus terpapar konten yang memicu rasa minder atau cemas. Mencari komunitas yang mendukung dan nyata jauh lebih berharga daripada mengejar pengakuan melalui jumlah suka atau komentar dari orang asing.
Selain menyaring asupan informasi, Stabilitas Kesehatan Mental juga sangat bergantung pada dukungan dari pasangan dan anggota keluarga lainnya dalam berbagi beban tugas domestik. Seorang ibu bukanlah pahlawan super yang harus melakukan semuanya sendirian sampai titik darah penghabisan tanpa rasa lelah. Memberikan ruang bagi diri sendiri untuk melakukan hobi atau sekadar bersantai tanpa rasa bersalah adalah bentuk perawatan diri yang sangat krusial. Ketika seorang ibu merasa bahagia dan termotivasi, maka atmosfer positif itu akan menular ke seluruh penghuni rumah, menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak-anak.
Pemerintah dan lingkungan sekitar juga perlu menyediakan ruang publik atau pusat komunitas yang fokus pada edukasi Kesehatan Mental khusus untuk para perempuan dan orang tua. Edukasi mengenai manajemen stres dan cara berkomunikasi yang sehat sangat membantu agar tekanan rutinitas tidak meledak menjadi konflik keluarga yang lebih besar. Kita harus mulai menyingkirkan stigma bahwa pergi ke konselor atau psikolog adalah tanda kelemahan, melainkan langkah berani untuk menjaga keutuhan jiwa. Dengan mental yang tangguh, seorang ibu akan mampu menghadapi dinamika zaman modern dengan lebih tenang, bijak, dan penuh kasih sayang.