Bulan puasa seharusnya jadi momen buat kita belajar menahan diri dan hidup lebih sederhana, tapi kenyataannya di media sosial justru terlihat sebaliknya. Belakangan ini, gaya Hedonisme Ramadan yang dipamerkan oleh deretan selebriti tanah air sering kali bikin netizen geleng-geleng kepala. Mulai dari acara buka puasa di hotel bintang lima yang harganya selangit, sampai pamer tas mewah dan baju desainer saat acara pengajian. Alih-alih menunjukkan sisi religius yang tenang, konten yang mereka bagikan malah lebih fokus ke kemewahan dan gengsi sosial yang sangat mencolok mata.

Gaya hidup serba mahal ini perlahan mulai menggeser esensi dari ibadah itu sendiri di mata masyarakat luas. Akibat dari Hedonisme Ramadan yang terus dipublikasikan, banyak orang jadi merasa kalau lebaran atau buka bersama itu harus mewah supaya dianggap sukses atau kekinian. Padahal, inti dari menjalankan puasa adalah empati kepada mereka yang kurang beruntung, bukan malah ajang kompetisi siapa yang paling banyak menghabiskan uang dalam satu malam. Kasihan banget kalau anak muda zaman sekarang jadi salah kaprah dan merasa minder kalau nggak bisa ikut tren gaya hidup ala sultan seperti itu.

Dampak dari tontonan yang serba glamor ini bikin banyak orang jadi terobsesi buat mengejar standar hidup yang nggak realistis. Masalah Hedonisme Ramadan ini juga sering memicu budaya utang di masyarakat bawah yang cuma pengen terlihat setara sama idola mereka di layar HP. Padahal, kebahagiaan sejati di bulan suci itu datangnya dari hati yang bersih dan hubungan yang baik sama sesama, bukan dari seberapa mahal hidangan yang ada di meja makan. Sayang banget kalau momen penuh berkah ini cuma habis buat urusan duniawi yang sifatnya sementara dan pamer belaka.

Para tokoh masyarakat dan pendidik sebenarnya sudah sering mengingatkan agar para figur publik bisa kasih contoh yang lebih membumi. Tapi sayangnya, arus Hedonisme Ramadan di jagat maya terasa lebih kencang karena dukungan sponsor dan tuntutan konten yang harus selalu terlihat sempurna. Kita sebagai penonton harusnya lebih pintar buat menyaring mana yang perlu ditiru dan mana yang cuma sekadar hiburan kosong. Jangan sampai kita kehilangan makna kesederhanaan yang jadi ruh dari ibadah puasa hanya karena pengen dibilang keren atau mengikuti tren yang ada.