Minimnya pemahaman orang tua atau pengasuh tentang metode pengasuhan positif sering menjadi akar masalah kekerasan pada anak. Mereka cenderung menggunakan kekerasan sebagai bentuk disiplin, dan kurangnya pengetahuan tentang hak-hak anak juga menjadi masalah serius. Lingkungan rumah yang seharusnya menjadi tempat aman, justru berubah menjadi zona rentan bagi anak-anak yang seharusnya dilindungi dengan baik.
Perilaku kekerasan seringkali berulang dari generasi ke generasi. Orang tua yang dibesarkan dengan kekerasan mungkin percaya bahwa itu adalah cara yang efektif untuk mendisiplinkan. Minimnya pemahaman tentang alternatif pengasuhan yang lebih positif membuat siklus ini sulit diputus, dan terus berulang tanpa adanya penyelesaian yang serius.
Dampak pandemi COVID-19 memperparah situasi ini. Stres ekonomi, isolasi sosial, dan kecemasan yang meningkat di kalangan orang tua dapat memperburuk perilaku kekerasan. Ketika faktor ekonomi memburuk, minimnya pemahaman tentang penanganan stres dan parenting positif semakin meningkatkan risiko anak menjadi sasaran pelampiasan frustrasi yang tidak dapat ditoleransi.
Paparan media sosial dan internet, meskipun menyediakan informasi, juga dapat memberikan potensi efek negatif. Jika orang tua tidak memiliki literasi digital yang memadai, mereka mungkin tidak dapat memilah informasi yang benar tentang pengasuhan atau justru terpapar konten yang memperkuat keyakinan tentang disiplin yang keras. Ini juga memperparah minimnya pemahaman mereka.
Peningkatan pelaporan kasus kekerasan anak mungkin menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi, namun masih banyak kasus yang tidak terungkap karena minimnya pemahaman orang tua atau pengasuh tentang bahaya tindakan mereka. Anak-anak yang menjadi korban juga mungkin tidak tahu bahwa apa yang mereka alami adalah kekerasan, karena tidak ada pengetahuan yang mereka miliki.
Pemerintah dan lembaga sosial harus dorong regenerasi program edukasi parenting positif yang lebih masif. Program ini harus mudah diakses, relevan dengan konteks lokal, dan menggunakan metode yang interaktif. Fokusnya adalah meningkatkan kualitas pemahaman orang tua tentang hak-hak anak, disiplin tanpa kekerasan, dan strategi pengelolaan stres yang sehat untuk semua pihak.
Masyarakat atau individu juga memiliki peran penting dalam penanganan masalah ini. Jika mereka melihat tanda-tanda kekerasan atau merasakan minimnya pemahaman di lingkungan sekitar, intervensi dini atau pelaporan dapat mencegah situasi menjadi lebih buruk. Ini adalah tanggung jawab kolektif untuk melindungi anak-anak dan menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang lebih aman dan positif bagi mereka.