Dalam struktur politik masa itu, organisasi ini memegang peranan vital sebagai Sayap Kultural yang berafiliasi kuat dengan Partai Komunis Indonesia. Mereka bertugas menerjemahkan garis politik partai ke dalam bahasa seni yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Melalui kebudayaan, pesan-pesan ideologis disebarkan secara efektif hingga ke pelosok desa melalui berbagai pementasan.
Prinsip “Politik sebagai Panglima” menjadi pedoman bagi setiap anggota dalam berkarya demi kepentingan revolusi nasional yang sedang berjalan. Sebagai Sayap Kultural, mereka menolak konsep seni demi seni yang dianggap borjuis dan tidak berpihak pada kaum tertindas. Fokus utama karya mereka adalah potret kehidupan buruh dan tani yang berjuang melawan ketidakadilan sosial.
Keterlibatan sastrawan besar seperti Pramoedya Ananta Toer memperkuat posisi organisasi ini dalam kancah intelektual nasional maupun internasional. Peran mereka sebagai Sayap Kultural sangat dominan dalam mendefinisikan identitas kebudayaan Indonesia yang progresif dan anti-imperialisme pada era tersebut. Diskusi dan polemik kebudayaan seringkali dipicu oleh pemikiran kritis yang lahir dari rahim organisasi ini.
Kelompok ini juga sangat aktif dalam mengorganisir festival rakyat yang menampilkan tarian tradisional serta nyanyian rakyat yang bermuatan politis. Fungsi Sayap Kultural ini berhasil membangkitkan kesadaran massa mengenai pentingnya kedaulatan budaya di tengah pengaruh barat yang kuat. Mereka percaya bahwa seniman harus turun ke bawah untuk memahami realitas objektif kehidupan masyarakat.
Namun, dominasi organisasi ini juga memicu reaksi keras dari kelompok seniman lain yang menjunjung tinggi kebebasan kreatif tanpa ikatan politik. Perseteruan ideologis antara pendukung Manifes Kebudayaan dan penganut realisme sosialis pun tidak terelakkan dalam sejarah seni tanah air. Kedudukan sebagai Sayap Kultural membuat setiap karya seni mereka selalu beririsan dengan dinamika politik nasional.
Pasca peristiwa politik tahun 1965, seluruh aktivitas organisasi ini dihentikan secara paksa dan para anggotanya mengalami persekusi yang hebat. Banyak karya seni orisinal yang dihancurkan karena dianggap membahayakan stabilitas negara dan menyebarkan paham terlarang. Tragedi ini mengakhiri eksistensi mereka sebagai Sayap Kultural yang paling berpengaruh dalam sejarah modern Indonesia.